Mendaki Gunung Rinjani, Menggapai Angan Dewi Anjani : Puncak ke-3 di Indonesia

Gumpalan awan telah terlihat dari jendala pesawat, langit biru seakan menjadi pendamping setia semesta luas, dari kejauhan terlihat pula satu gunung yang sangat besar, tinggi, yang hampir mengelilingi Pulau Lombok, Gunung Rinjani. Yap, udah dari dulu gue ngiler banget buat mendaki gunung yang satu ini, bukan hanya menyandang predikat gunung tertinggi ketiga di Indoneisa, tapi juga karena gunung ini tekenal akan kecantikannya yang luar biasa. Rencana mendaki Rinjani ini gue gagas sama temen pribumi yang agak laki tapi sebetulnya cewek banget yaitu si Ines sebelum puasa, dan kita dapet tanggal resmi memulai pendakian ini yaitu 10 hari setelah lebaran.


Hari H, Perjalanan Jakarta - Lombok

Kita berdua beli tiket sengaja penerbangan jam pertama karena di hari pertama di Lombok kita mau main-main dulu sebentar. Kita berdua meskipun naik pesawat, tapi beda pesawat, gue Lion, si ines Citilink. Untuk tiketnya sendiri, gue kemarin dapet harga promo dari Panorama Tour jadi 980 pp bersih, cukup murah bukan? Tepat jam setengah 5 pagi, gue uda bisa masuk pesawat, dan ga delay, kayanya Lion saat ini sudah berbenah, kemarin pas dari Lombok ke Jakarta juga pake Lion dan selalu on time, baguslah. Singkat cerita pesawat take off jam 5 pagi dan gue sampai di Lombok tepat jam 8 pagi WITa.


Di BIL (Bandara Internasional Lombok) gue plenga-plengo bae nungguin ines sama si Aji dan Satria cah Lombok yang bakal jemput gue. Sekitar jam 9 pagi si Aji dan Satria sampe di BIL, dan ga lama si ines juga keluar dari Bandara, sekitar jam 11 siang kami tiba di rumah Satria dan mempersiapkan segalanya untuk mendaki Rinjani di hari esok. Tapi sayang, si Aji ga bisa ikut pendakian kali ini karena lagi semester pendek, masih aje kuliah lo ji ji pas lagi musim liburan *ehmmm.

Sorenya, gue dan ines main-main sebentar di sekitaran Lombok Barat, cuma ke Malimbu sama Pantai Tiga Setangi aja, nikmati sunset cuy terus ni cewek juga baru pertama kali ke Lombok.

Bukit Malimbu

Sunset di Pantai Tiga Setangi


Hari 1, Ampenan - Sembalun - Pendakian Gunung Rinjani Pos 2

Sekitar jam 8 pagi, semua personil yang akan mendaki Gunung Rinjani dateng satu persatu. Total group kita ada 8 orang di mana 2 orang dari luar Lombok yaitu gue dan ines, lalu 6 orang dari Lombok yang notabennya adalah temen kampusnya Satria. Adapun personilnya antara lain
  1. Ines, temen gue dari SMP yang kalo lagi rambutnya pendek, lebih ganteng dari gue, hmmm
  2. Satria cah Lombok yang gue susahin pas ngebolang Januari kemarin
  3. Fiqri temen kampusnya si Satria, sang Uztad yang ga ada lagu di hapenya, adanya suara uztad ngaji
  4. Jepril yang mirip banget ama temen gue si Kudis, mirip tingkah lakunya tapi masih inget Allah
  5. Nauval si bos yang uda kerja di NTT, entah orang Lombok atau NTT lah, tapi doi emang bos besar! #Taliwang
  6. Chan si bocah dari Padang yang kuliah di Unram, Chan ini bukan chandra atau apa, emang namanya chan
  7. dan paling cilik si Iwan keponakan Chan yang tinggal di Sumbawa Besar, yang kerjaannya sama kaya gue, nyebat  mulu di setiap kesempatan (Re: Nyebat = ngerokok).

Oh ya si lima anak sumpret yaitu si Fiqri, Jepril, Nauval, Chan, dan Iwan itu pendaki yang bener-bener baru mau mendaki gunung, dan gunung pertama mereka adalah ya pendakian ini, Rinjani coegggg *Sungkem. Kami menyewa mobil pick up dari Ampenan hingga basecamp Sembalun PP 1 juta, dibagi berdelapan jadi 125rb aja pp. Tepat jam setengah 11 pagi kami meluncur dari rumah Satria di Ampenan, menuju Sembalun!


Perjalanan selama 3 jam. akhirnya kita tiba di Sembalun. Suasana pada saat itu di Balai Taman Nasional Gunung Rinjani sangat sepi, eh ternyata mereka uda pada naik dari pagi, dan sekitar 500 orang pendaki naik pada hari itu. Sebelum melakukan pendakian, kita solat dulu di masjid terdekat dan mengisi perut yang sudah sangat nendang-nendang. Setelah solat dan makan-makan, kami menuju BTNGR guna registrasi pendakian. Cukup membayar 25ribu saja untuk 5 hari, karena memang rencana kami ingin 5 hari di Rinjani, tepat jam 4 sore pendakian ini dimulai!

Etape BTNGR - Pos 1 - Pos 2

Dari BTNGR, kami masih diantar oleh pick up hingga ujung aspal, lumayan jauh loh kalo jalan kaki. Sesampainya di ujung aspal, kami mulai melakukan pendakian hingga gerbang pendakian Sembalun. Sebetulnya masih lumayan jauh dari ujung aspal ke gerbang pendakian, yauda selo aja. Eh pucuk dicinta ulam pun tiba, ada truck pengangkut pasir yang bersedia kami tebengi hingga dekat pintu gerbang pendakian Sembalun, tepat 30 menit perjalanan dengan pick up, truck, dan jalan kaki sedikit, kami tiba di pintu pendakian Sembalun.


Dari gerbang pendakian, kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju pos 1. Perjalanan dari menuju pos 1 adalah savana berbukit dengan kontur yang naik turun gak terjal. Apabila cuaca cerah, kita bisa melihat Rinjani dengan jelas, tapi waktu itu cuaca mendung, keuntungannya ya selama perjalanan ga panas. Perjalanan dari gerbang menuju pos 1 sangat jauh, apalagi kalau kalian dari BTNGR jalan kaki, dijamin dengkul meringis meskipun treknya ga terjal. Kalo gue, Ines, dan Satria fokus berjalan, beda ama si lima anak sumpret yang kerjaannya foto-foto mulu, heuuu, tapi kalo mereka ga foto-foto, ga ada foto buat blog gue *makasih,TeruskanNarsisnya! Singkat cerita perjalanan selama 1 jam 40 menit kami tiba di pos 1.

Savana Sembalun



Pos 1
Kami cukup lama istirahat di pos 1 karena perjalanan cukup jauh dan melelahkan, hari sudah mulai gelap dan kami segera menyiapkan headlamp, sekitar jam setengah 7 malam kami lanjutkan perjalanan menuju pos 2. Perjalanan menuju pos 2 atau check point pertama kami, jalurnya sudah menanjak tetapi terkendali. Perjalanan malam hari tidak membuat kami gampang lelah karena kita ga melihat jalur. 30 menit perjalanan dari pos 1 kami pun tiba di pos 2 dan langsung diriin tenda dan melanjutkan perjalanan esok hari. Sialnya waktu kita mau diriin tenda, hujan turun, mana beruga (saung) di pos 2 uda dikuasai pendaki lain, jadi agak kuyup deh kita pas diriin tenda. Di pos 2 terdapat sumber air tepat di bawah jembatan, tetapi tidak layak diminum langsung karena agak berbau, sebaiknya air tersebut dipake untuk keperluan masak-memasak saja.

Hari 2, Perjalanan Pos 2 - Bukit Penyesalan - Plawangan Sembalun

Selamat pagi! Ini pagi pertama kita di Rinjani, cuaca sangat cerah, bahkan waktu keluar tendapun Rinjani seakan menyambut kami untuk datang. Kondisi pos 2 sangat terbuka, jadi kalo cuaca panas ya panas banget, kalo dingin ya lumayan, tapi ga begitu dingin kok soalnya masih di bawah 2000 mdpl, ya semacam Puncak Bogor lah dinginnya. Sambil bikin sarapan bubur ala-ala instan, lalu ada yang urusan hajatan, sekitar jam 9 pagi kami melanjutkan perjalanan menuju Plawangan Sembalun. Perjalanan hari ini merupakan perjalanan terberat sepanjang Gunung Rinjani karena kita akan melewati bukit yang katanya bikin nyesel pas kita daki, ehmmm.


Rinjani dari pos 2
Sumber air di pos 2, kotor banget :((


Etape pos 2 - pos 3

Perjalanan dari pos 2 menuju pos 3 sudah mulai cukup berat, tanjakan terus dan sedikit bonus. Sebetulnya yang bikin berat karena kita sudah bisa melihat jalur dari pos 2 menuju pos 3, rasanya dekat di mata tapi jauh di dengkul, ditambah cuaca saat itu terik banget, makin menjadi deh lelahnya. Sebelum sampai di pos 3, nanti kita bertemu dulu sama yang namanya pos 3 extra, jadi jangan seneng dulu soalnya masih sekitar 10 menit dari pos 3 extra dengan jalur yang sudah menanjak. Tepat jam 10 pagi atau 1 jam perjalanan dari pos 2, kami tiba di pos 3. Lahan camp di pos 3 cukup luas, tapi memang ga seluas pos 2, dan di pos 3 tidak ada sumber air. Dari pos 3, kita sudah bisa melihat bukit yang konon katanya bikin dengkul sama hati terkadang ga sejalan, yang katanya siapun pendaki yang mendaki Rinjani via bukit ini bakal nyesel, hmmm yap namanya 7 bukit penyesalan. Kenapa namanya 7 bukit penyesalan? Karena kita bakal mendaki bukit hingga 7 biji! Iya, ga boong, terus pas kita melongo keatas, kesannya uda kaya puncak Plawangan Sembalun, padahal itu baru puncak bukit aja, makanya jalur ini juga disebut jalur PHP, mungkin yang biasa di PHPin, bakal terbiasa melwati jalur ini *KokMalahNgaco.

Kondisi pos 3

Etape pos 3 - Tujuh Bukit Penyesalan - Plawangan Sembalun

Setelah beristirahat selama setengah jam, kamipun bersiap melanjutkan perjalanan kembali menuju check point kedua yaitu Plawangan Sembalun. Perjalanan dari pos 3 menuju Plawangan sangat berat, ditambah cuaca pada saat itu sering berubah-ubah, kadang panas terik, kadang sejuk karena ketutup kabut. Tapi suer deh, kalo kita lewat jalur ini pas panas terik, bener-bener nyiksa! Waktu itu cuaca keseringan berkabut, jadi kami ga melihat bukit di atas jadi ga ada kesan PHP. Treknya? Buset beneran dah bonusnya minim banget. Bonusnya ya kalo kita nyampe di setiap puncak bukit, abis itu naek terus mennn!

Tanjakan teross

Bukit berbukit cuy

Kalo cerah, Rinjani terlihat
Setelah 1 jam 30 menit perjalanan, kami tiba di pos extra di tengah-tengah bukit penyesalan. Kata orang-orang, kalau kita sudah di pos extra ini, tandanya sudah dekat dari Plawangan Sembalun. Iya deket, tapi tanjakannya itu loh ga nahan! Tapi keuntungannya, jalur dari pos extra menuju plawangan ini cenderung teduh karena di kiri kanan ku lihat saja banyak pohon cemara aaaaaa *EhKokNyanyiSi, lalu di sini gue juga cuma bisa senyum kalo ada porter lewat menyalip gue, salut deh mereka bener-bener kuat, cuma modal sendal swallow sama sebatang bambu gede untuk ngangkat bawaan seberat 20kilo, asli ga ngerti lagi mana nge-gas terus di jalur yang jahanam begini.

Oh ya gue mau cerita dikit, jadi si lima anak sumpret itu, entah karena mereka pendaki pemula atau apa, saat melewati bukit penyesalan, mereka ngebut banget jalannya kek R1, sama kaya si ines juga, cewek tapi macan! Dan resenya, mereka semua bilang kalo bukit penyesalan ga bikin nyesel, tapi bikin mereka senang *ElusDada. Sedangkan gue dan Satria yang paling belakang, uda kaya lintah jalannya cuy sambil ngunyah coki-coki, kaki asli keram!

Istirahat di pos extra

trio apa neh

Plawangan Sembalun sudah terlihat

Tepat jam setengah 1 siang kami melanjutkan perjalanan dari pos extra menuju plawangan sembalun. Perjalanan kali ini lebih berat dari sebelumnya, iya sih emang lebih adem, tapi tanjakannya jos magojos, hampir sama kaya tanjakan patak banteng Prau tapi lebih terjal lagi. Di sini gue banyak istirahat, karena kaki mulai sering kram, satria pun juga, cuma si ines sama lima anak sumpret itu yang ngebut terus, dikilik dulu kakinya kali tuh. Singkat cerita, di bukit terakhir yang jalurnya terjal sekali, dan sudah terlihat puncak Plawangan Sembalun, tepat jam 14.45 atau sekitar 2 jam 15 menit kami (lebih tepatnya gue dan satria karena paling belakang) akhirnya sampe juga! Cihuyyy!

Trek bukit terakhir

Plawangan Sembalun

Ada pelangi di matamu, eh Plawangan Sembalun!

Saat itu kondisi Plawangan agak sepi dan juga berkabut. Kami pun jalan sedikit lagi menuju camp area, yaitu deket sumber air. Dari Plawangan tadi jalan lebih kurang 10 menit aja dengan kontur naik turun. Sesampainya di jalur akhir, di mana sudah deket jalur ke puncak dan ke sumber air, kamipun segera mendirikan tenda. Oh iya saat itu kata Satria, Rinjani lagi tumben-tumbennya sepi, padahal biasanya di Plawangan ini kita mau lewat aja bener-bener susah soalnya tenda ada di mana-mana. Setelah tenda berdiri, masak makan siang, foto-foto, sekitar jam 6 sore kami tidur semua karena untuk persiapan summit menuju Dewi Anjani dini harinya. Oh ya FYI aja, di Plawangan Sembalun itu ada toilet, tapi kondisinya sangat mengenaskan :(, ditambah banyak banget ranjau di sana, gatau lagi harus bagaimana :(. Ranjau itu ga bikin sakit, tapi bikin jalan kita jadi pincang :((

Tenda kami

Jalur menuju puncak sudah terlihat

Negeri di atas awan

Hari 3, Plawangan Sembalun - Puncak Dewi Anjani - Danau Segara Anak

Telolettelolettelolet, yap tepat jam setengah 12 malem alarm kita bunyi, dan persiapan menuju puncak Rinjani, si puncak tertinggi ketiga di Indonesia. Sebelum mendaki, kita bikin sarapan dini hari dahulu untuk energi kita, ini wajib kalo kalian gamau kehabisan tenaga saat summit. Kita bikin spagetti aja yang instan tapi ngenyangin banget. Oh ya si satria ga ikut ke puncak gara-gara udah pernah, dan kata dia puncak cukup sekali aja, hmm oke dah akamsi mah bebas kek Zlatan. Tepat jam 1.15 pagi, dengan bismillah kamipun melakukan summit menuju puncak ketiga di Indonesia!

Jalur awal dari tenda kami sudah menanjak, dan baru beberapa menit jalan, jalur yang tadinya tanah berubah menjadi pasir yang lumayan bikin capek. Pasir ini sering banget merosot, tapi ga bikin kaki tenggelem seperti Semeru. Singkat cerita selama 1 jam perjalanan, kami sudah tiba di Rinjani ridge (elah keren banget) atau kalo kita nyebutnya Plawangan Sembalun atas, soalnya ini puncaknya semua Plawangan. Dari sini trek variatif, kadang rata, kadang nanjak tapi ga curam, cuma ga turun, dan jalurnya pun pasir, tapi sekali lagi ga bikin kaki tenggelam layaknya Semeru. Si lima anak sumpret awalnya uda kepedean bakal cepet sampai puncak, soalnya puncak Rinjani memang sudah terlihat jelas banget, tapi uda jalan lama banget kok ga sampe-sampe, sampai pada akhirnya jalur yang cenderung enak berubah menjadi pasir berbatu, menanjak curam, dan berkerikil, yap welcome to letter E ridge guys!

Yap, letter E ridge merupakan etape terberat sepanjang perjalanan menuju puncak. Jalur yang curam banget sekitar 50-55 derajat, berpasir, berbatu, dan kerikil, bikin susah jalan, ditambah juga angin yang dinginnya ga karuan bikin susah nafas. Tapi gue akui, jalur menuju puncak Rinjani memang ga sesulit Semeru, karena kalau Semeru, pasirnya itu gembur banget kan, tapi kalo ini enak. Tipsnya adalah kalian pijak ke pasir yang sudah dipijak oleh pendaki lain biar ga merosot atau jatoh. Oh ya jalur Letter E ini juga sempit, kanan kiri jurang. Kalau kiri jurang langsung menuju savana sembalun, kanan jurang langsung menuju gunung Anak Barujari. Di sini kami banyak banget melakukan istirahat, apalagi si lima sumpret baru ngedown di jalur ini, semangat pokoknya! Keinginan mereka untuk sampai puncak sebelum sunrise terwujud, tepat jam 6 pagi atau perjalanan selama 4 jam 45 menit, kami tiba di puncak Dewi Anjani, Puncak ketiga di Indonesia! Kondisi puncak Rinjani sangat sempit, dan juga ramai, kita pun harus antri buat foto. Tapi semua pengorbanan kita bukan hanya soal foto, tapi bisa menikmati anugerah Tuhan di atas puncak ketiga di Indonesia ini bersama-sama.

Alhamdulillah Puncak!
Sunrise kala itu
Full team!

3726, puncak ketiga di Indonesia

Cuaca saat itu alhamdulillah cerah banget, dari puncak, kita bisa melihat dengan jelas seluruh Lombok loh, bahkan Gili Trawangan yang notabennya jauh dari Rinjani terlihat sangat jelas, lalu deretan bukit-bukit nan eksotis di Sembalun, Gunung Agung yang ada di Bali, dan juga Gunung Tambora yang ada di Sumbawa terlihat dengan jelas. Setelah puas foto-foto di puncak dan menikmati keindahan semesta, tepat jam setengah 8 pagi kami turun kembali. Perjalan turun dari puncak ternyata cukup terjal, apalagi melihat letter E dari atas, masih ga nyangka gue dan temen-temen bisa melalui trek itu. Oh ya turun dari puncak juga cukup enak, kaya maen ski layaknya di Semeru, tapi kalo di sini kita gampang jatoh soalnya masih banyak batu besar yang menempel di pasir. Oh ya kita juga banyak narsis selama di jalur, apalagi melihat Barujari yang asli keren banget dari atas. Singkatnya kami tiba lagi di tenda jam setengah 11 siang atau 3 jam turun, itu foto-foto nya yang kelamaan.

Perjalanan turun

Letter E nya bikin lemes bre kalo keliatan

Spot foto terbaik, di sekitar Letter E

Puncak Rinjani, sampai jumpa lagi!

Gunung Barujari yang lagi ngebul

Setelah sampai tenda, kami buat makan siang, istirahat sejenak, lalu packing karena kita akan menuju check point 3, dan juga akan istirahat seharian esoknya, yaitu di Danau Segara Anak. Perjalanan dari Plawangan Sembalun hingga danau kata Satria bisa 3 jam lebih. Awalnya gue ga percaya, masa sih sejauh itu, padahal danau keliatan jelas banget dari plawangan, tinggal turun cuss padahal, tapi ternyata pemikiran gue salah.

Tepat jam 2 siang kami turun dari Plawangan Sembalun menuju danau. Perjalanan saat itu cukup berkabut, dari jalan tanah dan turunan normal, hingga 15 menit setelah itu baru deh jalurnya menggila, edyan! Kita bener-bener nurunin tebing, jalannya berbatu cadas, ditambah si tuan putri ines takut gelinding pas turun di trek kaya begini, jadinya kita juga cukup lama. Gue salut ngeliat porter, jalur yang turunannya extrim gini, dia ngelangkah layaknya jalan di lantai rumah, mana cuma pake sendal swallow *CumaBisaHelaNafas. Gue, Chan, Fiqri, Iwan, sama Nauval di belakang bae, biar si ines jalan duluan sambil ditemenin satria sama jepril. Emang sih turun, tapi jalurnya bener-bener ga bisa dianggap enteng, bonusnya ada sesekali jalur yang sudah di beri anak tangga, selebihnya bebatuan yang kalo kita ga hati-hati, siap-siap kaki cedera parah.

Jalur turun menuju danau

Setelah berjibaku selama 2 jam 15 menit, kami baru menemukan jalan yang enak. Nah kenapa menuju danau itu lama, soalnya kita harus melipir beberapa bukit, tapi jalurnya uda enak kok, ga seextrim turun awal-awal tadi, seperti jalur dari basecamp ke pos 1, naik turun lalu banyak bonusan. Dengan kondisi yang sangat lelah, si ines juga uda mulai drop, alhamdulillah semua bisa terlewati dan kami tiba di danau jam 6 kurang 10 sore atau 3 jam 50 menit dari Plawangan Sembalun. Saat itu danau kondisinya ramai lancar, masih banyak tempat buat diriin tenda, tapi tetep banyakan bulenya dari pada pribumi. Kami diriin tenda di deket jalur menuju mata air.

Jarak tenda kami ke mata air lumayan jauh dengan kontur naik turun, nanti kita juga bakal ngelewatin sumber air panas aiq kalak yang terkenal itu. Sumpretnya Satria, orang udah pada capek malah disuruh ngambil air, mana pake boong kalo jaraknya deket, jadilah si Fiqri dan Nauval korbannya buat ngambil kesana, eh pas nyampe tenda lagi, mereka sumpah serapah dan pertama kalinya gue denger pak uztad ngomong "anak setan kau" LOL. Setelah masak-masak, sambil bercanda-canda sampai ditegur porter, saatnya istirahat. Oh ya Gunung Barujari pada saat itu lagi meletup, atau bahasa sasaknya itu "Poh", sempet ngeluarin warna merah dari kawahnya loh, antara ngeri, sama kagum dengan ciptaanNya.

Cahaya merah dari kawah Barujari




Hari 4, Main di Danau Segara Anak, Mancing, dan Mandi di Aiq Kalak

Kita sengaja ngambil 5 hari pendakian karena ingin ngecamp sehari lagi di danau. Asli, camp di danau seharian penuh itu asik banget cuy! Selain kita bisa recovery total, kita bisa mancing ria dulu sama mandi di sumber air panas yang namanya Aiq Kalak. Kalau soal urusan mancing-memancing, kalian ga perlu panik kalo ga bawa pancingan, di sana banyak sekali porter atau pendaki yang cuma niat mancing dengan cuma-cuma minjemin kalian pancingan sederhana beserta umpannya. Pokoknya hari keempat ini kita full istirahat, foto-foto puas di danau, mancing mania mantap, lalu mandi di Aiq Kalak.
Jepri, pemancing profesional

Nauval, Iwan, dan Jepri, itu ikan kecil amat dah

Chan dan gue, ikannya mayan lah
Saatnya disantap!

Gunung Barujari :))

Indahnya ciptaanMu

 
Selain foto-foto dan mancing, kita juga mandi di sumber air panas, namanya Aiq Kalak. Asli ini pengalaman pertama gue mandi di gunung, terus sumber air panas pula. Oh ya kalo mau enak, jangan mandi di kolam yang sumber air panas itu muncul, panasnya luar biasa! Kalo gue kemarin milih kolam yang agak turun sedikit dari plang mata air, di situ sepi banget, ada juga sih di bawah tapi kebanyakan bule, rame, padahal viewnya bagus soalnya itu air terjun tapi air panas gitu. Tapi di kolam kita juga uda enak kok, airnya ga begitu panas, belerangnya wih banget, dan bonus bisa ngeliat bule bikinian dari atas (asli bule mandi bikinian, semua mata tertuju padanya).

Kakinya keriput amat ya



Eh tuan putri kaga buka baju (?)

Yaduh mukanya pada nahan apaan tuh
Setelah puas mulai dari foto-foto, mancing, sampai mandi, akhirnya malampun tiba dan ga kerasa esok hari kami harus meninggalkan danau dan turun dari Rinjani. Banyak banget loh pendaki yang cuma camping berlama-lama di danau, bahkan ada yang sampe seminggu. Emang suasana di danau tu syahdu banget, rasanya kalem terus segala kepenatan di luar sana seakan hilang *TsaaahLebay.


Hari 5, Danau - Plawangan Senaru - Pintu Senaru

Hari terakhir kami di Rinjani! Huhu sedih ya, padahal masih mau lama di danau, tapi ya kan harus pulang juga. Tepat jam 6 pagi kami semua bangun, bagi tugas ada yang ngambil air, nyuci nesting, packing di awal. Setelah semua selsai, tepat jam 9 pagi kami meninggalkan danau, sampai berjumpa kembali di lain waktu, segara anak, keindahan dan ketenanganmu sungguh dirindukan!



Etape Danau - Plawangan Senaru

Untuk turun dari Rinjani, kami sebelumnya sudah mendiskusikan apakah lewat Senaru atau Torean. Sebetulnya keduanya punya sama-sama plus minusnya. Kalo Torean, plusnya itu kita ga perlu nanjak dulu, langsung turun, minusnya jalurnya sangat extrime dan kalo terjadi apa-apa pihak taman nasional ga tanggung jawab soalnya asuransi ga ke-cover untuk turun maupun naik dari Torean. Sedangkan kalo lewat Senaru, plusnya itu adalah jalur resmi, jalurnya ga extrime, minusnya kita harus nanjak dulu ke plawangan Senaru yang hampir sama aja terjalnya kaya pas turun dari plawangan Sembalun ke danau. Akhirnya keputusan kami bulat, yaitu turun lewat Senaru karena Satria sebagi leader juga agak ngeri lewat Torean.

Perjalanan dari danau menuju plawangan Senaru, kita sisir danau dulu, baru abis itu kita mulai mendaki men! Ini pertama kali buat gue mau turun gunung harus mendaki dulu. Jalur menuju plawangan senaru asli indah banget cuy! Karena sepanjang perjalanan lo bakal ngeliat danau segara anak dengan gunung Barujarinya itu, tapi jalurnya juga terjal banget asli.

Awal perjalanan, full tanjakan


Pemandangan sepanjang mata memandang
Setelah berjibaku kurang lebih 1 jam, kita bakal nemuin beberapa taman batu, karena banyak banget batu berserakan. Dari situ pelipiran tebing menuju plawangan senaru dimulai. Jalurnya terjal, bahkan sesekali kami harus beraksi layaknya rock climbing. Sebelum sampai plawangan, kita bener-bener bakal melipir tebing, melewati tangga yang dibuat secara permanen dengan kanan kiri jurang, tanjakannya juga aduhai banget. Tapi dibalik terjalnya itu semua, danau dan gunung Barujari seakan obat lelah bagi kami untuk selalu semangat (semangat foto-foto bu). Tepat jam 12 siang kami semua tiba di plawangan senaru atau 3 jam perjalanan dari danau, foto-fotonya kelamaan, tetapi memang jalur menuju plawangan senaru memang seru, apalagi pas udah sampe plawangan senaru, ajib banget pemandangannya!

Taman Batu


Sisi kiri jurang
Rock Climbing ni bang Nauval
Liat tangga di atas situ? Ya itu jalurnya
Kalo ga ada awan, asli puncak Rinjani keliatan jelas banget total

Full team, kecuali satria, lagi telponan ama pacarnya


Etape Plawangan Senaru - Pintu Senaru

Dari plawangan senaru, kita agak melipir bukit baru deh perjalanan sudah turun terus sampe pintu gerbang. Oh ya ketinggian plawangan senaru itu 2600an, dan pintu senaru itu 600 mdpl, brarti kita turun 2000 mdpl cuy! Setelah turun dari bukit, sekitar 10 menit kita sampe di pos extra, di sini kami masak untuk makan siang terlebih dahulu, soalnya perjalanan turun ini bakal lama. Setelah makan beres, tepat jam 2 siang kami turun.

Trek dari pos extra menuju pos 3 itu masih terbuka dan jalurnya cenderung berpasir, jadi agak licin, perlu hati-hati tapi kita malah lari-lari kaya bocah, bule aja geleng-geleng liat kita turun, apa lagi liat si bocah sumpret pada girang banget terutama si Fiqri, chan, ama jep, hett kek bocah lo pada. Singkatnya perjalanan turun selama 30 menit kami tiba di pos 3.

Kita ga istirahat terlalu lama di pos 3, lanjut menuju pos 2. Perjalanan menuju pos 2 dari pos 3 itu sangat panjang, tetapi kita sudah memasuki hutan senaru yang terkenal mistisnya itu, apalagi soal pos 2, udah rahasia umum pos 2 itu pos terangker seantereo Gunung Rinjani. Perjalanan terasa ga sampe-sampe, meskipun adem gara-gara udah di hutan dan turun, tapi tetep capek. Lagi-lagi tuan putri juga turunnya kaya putri mau lahiran, takut gelinding. Gue, jepri, iwan, chan, sama noval di belakang aja becandaan mulu sambil mendampingi tuan putri, biar ga bosen ceritanya, sedangkan si satria uda ngicir duluan di depan. Singkatnya kami tiba di pos 2 dengan lama perjalanan turun 1 jam 20 menit.

Di tengah-tengah hutan Senaru

Agak krik
Kami istirahat sejenak di pos 2 karena lelah, kaki juga uda kriting banget rasanya. Oh ya di pos 2 itu ada sumber air, tapi kami ga ngambil, uda capek euy. Kami istirahat cuma 5 menit langsung meneruskan perjalanan menuju pos 1. Oh ya ada kejadian yang cukup bikin bergedik di pos 2, jadi ceritanya kita turun tuh dari pos 2 menuju pos 1, posisinya 2 group, group depan ada si satria, nouval, fiqri sama chan, dan group belakang ada gue, ines, iwan, sama jepri. Nah posisi gue waktu itu paling buncit, gue ngerasa banget kalo ada yang ngikutin dari belakang selama perjalanan menuju pos 1 dari pos 2, beneran ini dan yang ngerasa hal ini bukan gue aja, tapi si jepri juga, trus si ines tiba-tiba jalannya jadi ngebut banget cuy, ga kaya sebelumnya yang kaya keong. Nah di pertengahan jalan, gue denger ada yang manggil gue tapi suaranya bilang "ines" dan dari belakang, padahal gue sadar kalo gue paling belakang sendiri, errrr. Tetapi semua kejadian janggal itu sirna ketika kami sudah tiba di pos 1. Kami tiba di pos 17.15 atau 1 jam perjalanan dari pos 2.

Karena badan uda mulai capek, stok air tinggal sedikit, ditambah laper ga karuan, kami istirahat ga sampai 3 menit di pos 1, langsung tancap gas menuju gerbang pendakian karena di sana ada warung, uda laper bray! Alhamdulillah setelah perjalanan selama 15 menit dari senaru, karena kita jalan cepet banget, kami tiba di gerbang senaru! Rasanya lega, seneng karena sudah bisa mendaki Rinjani dengan puas banget, dan bisa melihat keseluruhan secara langsung, ga lewat google atau IG lagi. Dari pintu Senaru ke RTC (Rinjani Trek Center) Senaru, jauh loh, kita akhirnya pada naik ojek dengan biaya 40rb/orang. Mahal ya tapi worth it si sama jauh dan terjalnya jalur.

Setelah kami semua tiba di RTC, gak lama mobil pick up yang kami sewa kemarin datang dan malam itu juga mengantarkan kami ke Ampenan atau ke rumahnya Satria. Sampai jumpa lagi Rinjani, sunggu kau memang sangat cantik dan mempesona, sampai jumpa di lain waktu!

Gue pulang dari Lombok hari sabtu malem, karena mau ngajak si mba tuan putri jalan-jalan dulu di hari jumat dan sabtu mulai dari wisata kuliner sampe ke bukit Marese yang ada di Lombok tengah. Gue pulang pake Lion Air yang lagi-lagi on time, bener ni kayanya Lion sudah berbenah, semoga selalu on time seperti ini, soalnya pesawat paling murah buat ke Lombok ya naik Lion si. Kami berdua tiba lagi di Jakarta jam 9 malam dan langsung naik Damri menuju Depok dengan membawa sejuta kenangan dari Rinjani *Tsahhhh

Jika di kalkulasikan per check point, maka lama perjalanan naik dan turun tim gue adalah sebagai berikut

Etape Kantor BTNGR - Pos 2

Kantor BTNGR – Gerbang Pendakian Sembalun
30 menit (dengan mobil pick up, nebeng truck, dan jalan kaki 10 menit)
Gerbang Pendakian Sembalun – pos 1
100 menit
Pos 1 – Pos 2 (Camp)
30 menit



Total 160 menit / 2 jam 40 menit

 *Catatan : Semua waktu sudah termasuk istirahat dan foto-foto.

Etape Pos 2 - Plawangan Sembalun
Pos 2 – Pos 3
60 menit
Pos 3 – Plawangan Sembalun (Camp)
225 menit



Total 285 menit / 4 jam 45 menit
  *
Catatan : Semua waktu sudah termasuk istirahat dan foto-foto. Pada etape ini kita melewati trek terberat Rinjani, yaitu 7 bukit penyesalan

Etape Plawangan Sembalun - Puncak Rinjani - Danau Segara Anak

Plawangan Sembalun – Puncak Rinjani
285 menit / 4 jam 45 menit
Puncak Rinjani – Plawangan Sembalun
180 menit (kelamaan foto-foto di jalur)
Plawangan Sembalun – Danau Segara Anak (Camp)
230 menit / 3 jam 50 menit



Total 695 menit / 11 jam 58 menit
*Catatan : Semua waktu sudah termasuk istirahat dan foto-foto, terutama foto-foto sangat lama saat turun dari puncak ke plawangan.

Etape Danau Segara Anak - Pintu Senaru - RTC Senaru

Danau Segara Anak – Plawangan Senaru
180 menit (bisa kurang, kelamaan foto-foto)
Plawangan Senaru – pos 3
45 menit
Pos 3 – Pos 2
80 menit
Pos 2 – pos 1
60 menit
Pos 1 – Pintu Senaru
15 menit
Pintu Senaru – RTC Senaru
10 menit (Ojek)



Total 390 menit / 6 jam 30 menit
 *Catatan : Semua waktu sudah termasuk istirahat dan foto-foto

Ada beberapa tips dari gue buat kalian yang mau naik Rinjani ni :
  1. Kalau kalian ga berkelompok besar, dari pelabuhan Lembar atau BIL sudah banyak travel yang menyewakan langsung kendaraan ke Sembalun.
  2. Kalau mau ngeteng, dari BIL kalian naik Damri hingga terminal Bertais, dari terminal kalian naik kendaraan yang menuju Aikmal, nah dari Aikmal kalian naik mobil pick up yang sering bawa sayuran atau sewa mobil pick up dari sana.
  3. Kalau kalian sudah registrasi di BTNGR lalu ga ada kendaraan buat nganterin sampai minimal di ujung aspal menuju gerbang pendakian, baiknya kalian mulai pendakian dari Bawak Nao aja, jalurnya ga jauh dari BTNGR. Kata pendaki yang ngobrol sama gue, lewat sana bisa menghemat waktu sampai 1.5 jam loh, langsung tembus di jembatan kedua sebelum pos 1. Soalnya memang jalur paling rese kalo via aspal itu ya jalur aspalnya itu, bisa makan waktu 2 jam sendiri dari BTNGR sampai gerbang pendakian sembalun kalo jalan kaki.
  4. Siapin fisik yang sangat prima, karena jalur dari start pendakian awal hingga puncak, lalu turun itu semua panjang banget, apalagi pas ngelewatin 7 bukit penyesalan dan letter E ridge, idih dah bikin lutut kriuk kriuk kalo kurang latian fisiknya.
  5. Wajib hukumnya tidur dulu setelah mahgrib dan sarapan dini sebelum melakukan perjalanan ke puncak.
  6. Minimal luangin waktu 5 hari pendakian buat mendaki Rinjani dengan 1 hari full kalian di danau, nimkati suasananya, soalnya segala aktivitas di danau itu ga bisa kalian dapetin di gunung lain seperti mancing dan mandi di sumber air panas.
  7. Untuk urusan komunikasi, di pos 2 terdapat sinyal XL dan Telkomsel (karena gue make dua provider itu) dengan kondisi full signal tapi internet E, di Plawangan Sembalun juga ada sinyal dengan kondisi full signal untuk kedua provider tersebut tapi internet E, di puncak Rinjani ada sinyal untuk kedua provider itu dengan kondisi sangat bagus dan internetnya H+, di danau full ga ada sinyal, dulu katanya ada si tapi waktu gue kesana ga ada sinyal sama sekali, lalu di Plawangan senaru sinyalpun sangat bagus untuk kedua provider tersebut, tetapi sinyal internet E. Lumayan kan kalian bisa hubungin minimal SMS/telpon ke orangtua, ga mengganggu esensi pendakian karena memang sinyal internet yang sangat buruk.
Oke itu dia cerita gue saat mendaki gunung Rinjani, ga berlebihan rasanya kalo memberikan predikat bahwa gunung Rinjani adalah gunung terindah yang ada di negeri ini. Terimakasih buat cah-cah si ines, satria, fiqri, jepri, nauval, chan, dan iwan yang udah mau naik bareng, seru-seruan bareng, ceng-cengan bareng, dan segalanya deh, semoga di lain waktu kita bisa mendaki bareng-bareng lagi! Kadang kita perlu keluar ke tempat yang bener-bener lost dari semua seperti ke gunung dengan temen-temen sepermainan ataupun yang memang baru kita kenal. Buat apa? Supaya kita tau dan merasakan bahwa kopi dan manusia sama-sama hangatnya ketika di gunung. Salam lestari, bawa turun kembali sampahmu, dan salam secangkir kopi panas semua!





Gunung Rinjani, 17-21 Juli 2016

Komentar

  1. Wahh Seru, Rencana Gw bulan April 2017 Mau Kesana Tapi Cuma Ber2, ada yang mau gabung kah, belum pernah kesana sebelumnya soalnya,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Itu mba, bawa komen saya mau kesana April 2017 haha semoga bisa nanjak bareng, itung2 menghemat pengeluaran banget :P

      Hapus
    3. saya rencana bulan mei tgl 10. lagi cari barengan. kalo ada yang mau bareng bisa info info ke email aja.

      Hapus
  2. Pengen juga kesana april 2017... sama nih blom ada temen jugaa, hhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu mba, atas komen saya mau kesana April 2017 haha semoga bisa nanjak bareng, itung2 menghemat pengeluaran banget :P

      Hapus
    2. abis lebaran aja yu bang hehe

      Hapus
    3. ayo bang bareng saya abis lebaran,berempat dari bandung hehehe

      Hapus
  3. Seru sekali, foto pemandangannya menakjubkan
    semoga bisa terlaksana naik gunung Rinjani

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, gunung yang paling indah selama pendakian itu Rinjani, semoga bisa ke Rinjani secepatnya ya mba :)

      Hapus
  4. sekitar bulan Juli/agustus sy mw kesana ne brosist sendiri, ada yg mw gabung ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga dapet temen jalannya masbro, tapi sebetulnya banyak lho yg sendirian Dateng ke Rinjani, nanti nimbrung sama pendaki lain

      Hapus
  5. Nice article! Oh ya saya mau nanya, waktu itu apa pake guidenya? Ato ada tips ga buat kita" yang mau ndaki tapi buta banget masalah jalur pendakiannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mba hehe dan saya mohon maaf baru balas soalnya kerjaan lagi numpuk ni. Waktu itu saya gak pake guide mba, soalnya saya ada temen di Lombok dan dia uda bolak balik Rinjani sampe 5X hehe. Kalo jalurnya sendiri naik dari Sembalun lalu turun Senaru si jelas banget mba. Ada si beberapa yang samar tapi nanti pasti ada aja Potter yg lewat mba

      Hapus
  6. Kira2 budjet via udara dari jakarta berapa untuk bulan desember

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau itu tergantung maskapai masing-masing dan di hari apa ya, soalnya tiket pesawat kadang ga nentu bang, paling murah sih masih dipegang sama si singa bang

      Hapus
  7. Keren bung.. Jadi pengen ke Rinjani lagi..
    Dulu belum sempet ke Segara Anak..

    Monggo mampir dimari: MENUJU PUNCAK RINJANI

    BalasHapus
    Balasan
    1. Next harus ke danaunya bang, justru danaunya yang keren banget haha

      Hapus
    2. Yoi bang.. Keren tripnya.., komplit banget ngeRinjaninya.. haha

      Hapus
  8. Bisa mintak kontak bang. Rencana tanggal 7 april berangkat berdua dari st.senen ..
    Atau ada yang mau join WA 085767992613

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya belum ada rencana buat ke Rinjani lagi bang haha semoga ada yang mau join yo bang

      Hapus
  9. Emg di plawangan senaru ada sinyal mas kok bisa telfonan?

    BalasHapus
  10. Thanks tulisannya om.
    23 Juni?? Ada kahh??

    BalasHapus
  11. tukisan yang bagus dan lengkap😁
    mas,untuk sinyal berarti 2 provider itu aman y?ato ada yg pake provider lain gak pas ksna?
    yang april skrg mw kesana bisa bareng.tfl 27 april ini insyAllah ksana😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas penilaiannya ya mas! Kalo yang saya alamin si cuma 2 provider itu aja mas yang aman, kecuali di danau baru full gak ada sinyal semua provider

      Hapus
  12. berapa harga guide

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon maaf gan untuk harga guide saya kurang paham soalnya kemarin saya gak pake guide

      Hapus
  13. bang saya mau naik ber3 tanggal 10 udah di lombok & naik nya tgl 11. ada yg mau bareng ga abang-abang atau kakak-kakak hehehehe. saya dari jakarta selatan baru pertama kali jg ke sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya si mba, di bandara suka dapet barengan soalnya pendaki dari Jawa yang jalan sendiri rata-rata cuma 3-4 orang, jadi lumayan buat ngirit ongkos ke Sembalun dari bandaranya. Semoga dapet barengannya ya!

      Hapus
  14. tgl 13 besok- surabaya-rinjani
    barang kali ada yang mau gabung :D
    chat aja di line "eerholmezz'

    BalasHapus
  15. siapa yang mau ke rinjani bareng nih,, q mau k rinjani bulan november, tp blm ada temen ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dapet barengannya ya :)

      Hapus
    2. @arista bayu... km kpn berangkatnya ?

      Hapus
    3. Saya belum ada rencana lagi buat kesana mba

      Hapus
  16. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Posting Komentar